Untuk mengetahui
kedudukan ilmu akhlaq dalam islam, maka perlu diuraikan bahwa ada tiga macam
sendi islam, yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya
sehingga kualitas seorang muslim selalu dapat diukurdengan pelaksanaanya
terhadap ketiga macam sendi tersebut, yang mencakup iman, islam, dan ihsan.
2.1 KEDUDUKAN AKHLAQ
DALAM IMAN
Berdasarkan hadist yang bersandar pada keterangan malaikat jibril, Nabi Muhammad bersabda bahwa iman adalah “engkau beriman kepada alloh, kepada Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusanya, dan beriman kepada hari akhir, dan bawasanya engkau harus beriman kepada ketentuan/kadar (qadar ) yakni ketentuan baik maupun ketentuan buruk”
Sepintas, hadist di atas menyerupai sebuah definisi tentang iman. Namun perlu diperhatikan
bahwasanya iman tidaklah cukup hanya dengan beriman saja, lalu meninggalkanya, dan
juga tidak cukup hanya dengan “beriman kepada Allah”. Iman mestilah berlaku juga
pada objek-objek keimanan, dan hanya orang yang beriman pada seluruh objek keimanan
yang tesebut di atas, keimanan seseorang dapat dipandang sebagai keimanan islam,
bukan hanya beriman pada sebagian objeknya saja.
Dalam bahasa inggris, pada umumnya kita tidak pernah membedakan antara istilah faith dan belief. Namun Wilfred
Cantwell Smith menggaris bawahi bahwasanya istilah faith sekalipun tanpa
mempertimbangkan konteks bahasa arab, perlu dibedakan dengan istilah belief.
Ketika kita mengatakan “people believe in something, bahwasanya mereka memiliki
keyakinan bahwa sesuatu tersebut benar, namun terkadang mereka salah dan bertentangan
dengan bukti yang meyakinkan. Dalam bahasa islam, istilah iman tidak mengandung
konotasinegatif seperti itu. Iman melibatkan keyakinan akan sebuah kebenaran sejati,
bukan kebenaran prasangka. Tidak terdapat kesan bahwasanya masyarakat beriman kepada
ketidak benaran. Objek keimanan mereka mereka mengexpresikan realita sobyektif dari
sesuatu, selanjutnya istilah faith bawasanya masyarakat memiliki keyakinan tersebut,
maka mereka mengikat diri untuk bertindak berdasarkan kebenaran yang mereka ketahui.[1]
Nabi Muhammad Saw mendefinisikan kata
“iman” dengan sabdanya, ”iman adalah sebuah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan dan aktivitas anggota badan”. Jadi iman melibatkan pegakuan, pengucapan dan perbuatan.
Hubungan antara iman
dan akhlaq sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Tidak bisa dipercaya bila
seorang mengaku baik iman namun akhlaq dan perbuatannya jauh dari nilai
keimanan. Begitu pula seorang akan sulit menjaga kebaikan akhlaq dan
perbuatannya dalam segala kondisi , ketika keimanan tidak bersemayam lekat
dalam jiwanya. Siapa yang memiliki perangai dan akhlaq yang buruk maka itu
pertanda buruknya keimanan dan keislaman dalam dirinya.
Akhlaq bisa
dijadikan sebagai barometer keimanan seseorang. Ibadah-ibadah yang disyariatkan
sebagai sarana untuk mengkondisikan hati dan meningkatkan keimanan, bisa diukur
baik atau tidaknya pelaksanaan ibadah tersebut,
diterima atau tidaknya ibadah tersebut sisi akhlaq dan perilaku. Bahwa
ibadah sholat yang baik adalah ketika ia mampu mewarnai perilaku dan perbuatan
kita. Baik perbuatan yang hanya berdampak pada diri sendiri maupun orang lain
atau sosial. Shalat yang mampu mengkondisikan jiwa dan keimanan seseorang bisa
sinilai dari perbuatan dan akhlaqnya.
2.2 KEDUDUKAN AKHLAQ DALAM ISLAM
Untuk menyempurnakan
iman menjadi alasan sebagai besar teologi Muslim memasuk kan islam sebagai
bagian dari iman. Islam adalah sama persis dengan “aktivitas anggota badan”,
tidak sembarang aktivitas, melainkan aktifitas yang diperintah kan oleh Tuhan, atau
yang sesuai dengan kebenaran al-Qur’an.
Sungguh, kebutuhan iman
terhadap islam adalah sangat penting. Iman mencakup kepatuhan terhadap anjuran-anjuran
Tuhan, tetapi kepatuhan kepada Tuhan tidak mesti termasuk bagian penting dari Iman.
Sebagai contoh sederhana
dapat menjelaskan hubungan antara iman dan islam adalah seorang muslim jatuh cinta
dan menjalani ikatan perkawinan, jika pihak keluarga taat menjalankan syari’at islam,
maka perkawinan tersebut mestilah dilangsungkan sesuai dengan ketentuan hukum islam.
Jika seseorang Muslim laki-laki bermaksud menikahi perempuan Kristen atau perempuan
Yahudi, maka pandangan Jumhur fuquha membolehkan berlangsungnya perkawinan tersebut,
sehingga anak-anak yang dilahirkan akan tumbuh menjadi anak-anak muslim. Tetapi
jika seorang wanita Muslim bermaksud menikahi dengan laki-laki non muslim, Syari’ah
menegaskan bawasanya perkawinan tersebut haram.
Perhatian ajaran
islam terhadap pembinaan akhlaq ini lebih lanjut dapat dilihat dari kandungan
al qur’an yang banyak sekali berkaitan dengan perintah untuk melakukan
kebaikan, berbuat adil, amar makruf dan nahi munkar. Perintah tersebut
sasaranya antara lain agar yang melakukan memiliki akhlaq yang mulia.
Selanjutnya
perhatian islam terhadap pembinaan akhlaq dapat pula dijumpai dari perhatian
Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana terlihat dalam ucapan dan perbuatannya yang
mengandung akhlaq. Didalam haditsnya misalnya ditemukan pernyataan bahwa beliau
diutus di muka bumi untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.
Orang islam dengan
petunjuk agamanya, mengikat akhlaq dengan agama dengan ikatan yang kukuh. Ia
memandang akhlaq sebagai bagian yang tidak dapat terpisah dari agama. Akhlaq
yang baik yang menggambarkan kebaikan dalam tingkah laku dan mu’ammalah,
sehingga ia menjadi sumber pokok bagi tingkah laku yang utama dan akhlaq yang
mulia dalam islam.
2.3 KEDUDUKAN AKHLAQ DALAM IHSAN
Ihsan berasal kata hasana yuhsinu yang artinya adalah berbuat baik,
sedangkan bentuk masdarnya adalah ihsana, yang artinya kebaikan. Dan hubungan
antara manusia dengan Allah memiliki aspek rohaniah yang dikenal dalam bahasa
arab disebut dengan ihsan. Sedangkan menurut istilah, ihsan adalah berbakti dan
mengabdikan diri kepada Allah SWT dengan dilandasi kesadaran dan keikhlasan. Berbakti
kepada Allah berarti berbuat sesuatu yang bermanfaat baik diri sendiri, sesama
manusia maupun untuk makhluk lainnya. Semua perbuatan tersebut dilakukan semata-mata
karena alloh, seolah-olah orang tersebut berhadapan dengan alloh.
Ihsan juga dapat diartikan berarti menyembah Allah dengan sepenuh hati,
memusatkan perhatian kepada alloh seakan-akan melihat alloh dihadapannya. Jika
tidak demikian harus tetap yakin bahwa alloh melihat dirinya. Ibadah seperti
inilah yang akan dapat mempengaruhi kepribadiannya menjadi manusia yang
berakhlak mulia.Adapun ihsan terhadap sesama manusia adalah berbuat yang lebih
baik (dari semestinya) sesuai petunjuk Islam. Dengan demikian yang dimaksud
ihsan adalah perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang dengan niat beribadah
kepada Allah swt.[2]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar