Kamis, 01 Desember 2016

kedudukan akhlak dalam iman, islam, dan ihsan



          






  


 Untuk mengetahui kedudukan ilmu akhlaq dalam islam, maka perlu diuraikan bahwa ada tiga macam sendi islam, yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya sehingga kualitas seorang muslim selalu dapat diukurdengan pelaksanaanya terhadap ketiga macam sendi tersebut, yang mencakup iman, islam, dan ihsan.
2.1  KEDUDUKAN AKHLAQ  DALAM IMAN
Berdasarkan hadist yang bersandar pada keterangan malaikat jibril, Nabi Muhammad bersabda bahwa iman adalah “engkau beriman kepada alloh, kepada Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusanya, dan beriman kepada hari akhir, dan bawasanya engkau harus beriman kepada ketentuan/kadar (qadar ) yakni ketentuan baik maupun ketentuan buruk”
Sepintas, hadist di atas menyerupai sebuah definisi tentang iman. Namun perlu diperhatikan bahwasanya iman tidaklah cukup hanya dengan beriman saja, lalu meninggalkanya, dan juga tidak cukup hanya dengan “beriman kepada Allah”. Iman mestilah berlaku juga pada objek-objek keimanan, dan hanya orang yang beriman pada seluruh objek keimanan yang tesebut di atas, keimanan seseorang dapat dipandang sebagai keimanan islam, bukan hanya beriman pada sebagian objeknya saja.
Dalam bahasa inggris, pada umumnya kita tidak pernah membedakan antara istilah faith dan belief. Namun Wilfred Cantwell Smith menggaris bawahi bahwasanya istilah faith sekalipun tanpa mempertimbangkan konteks bahasa arab, perlu dibedakan dengan istilah belief. Ketika kita mengatakan “people believe in something, bahwasanya mereka memiliki keyakinan bahwa sesuatu tersebut benar, namun terkadang mereka salah dan bertentangan dengan bukti yang meyakinkan. Dalam bahasa islam, istilah iman tidak mengandung konotasinegatif seperti itu. Iman melibatkan keyakinan akan sebuah kebenaran sejati, bukan kebenaran prasangka. Tidak terdapat kesan bahwasanya masyarakat beriman kepada ketidak benaran. Objek keimanan mereka mereka mengexpresikan realita sobyektif dari sesuatu, selanjutnya istilah faith bawasanya masyarakat memiliki keyakinan tersebut, maka mereka mengikat diri untuk bertindak berdasarkan kebenaran yang mereka ketahui.[1]
Nabi Muhammad Saw mendefinisikan kata “iman” dengan sabdanya, ”iman adalah sebuah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan dan aktivitas anggota badan”. Jadi iman melibatkan pegakuan, pengucapan dan perbuatan.
Hubungan antara iman dan akhlaq sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Tidak bisa dipercaya bila seorang mengaku baik iman namun akhlaq dan perbuatannya jauh dari nilai keimanan. Begitu pula seorang akan sulit menjaga kebaikan akhlaq dan perbuatannya dalam segala kondisi , ketika keimanan tidak bersemayam lekat dalam jiwanya. Siapa yang memiliki perangai dan akhlaq yang buruk maka itu pertanda buruknya keimanan dan keislaman dalam dirinya.
Akhlaq bisa dijadikan sebagai barometer keimanan seseorang. Ibadah-ibadah yang disyariatkan sebagai sarana untuk mengkondisikan hati dan meningkatkan keimanan, bisa diukur baik atau tidaknya pelaksanaan ibadah tersebut,  diterima atau tidaknya ibadah tersebut sisi akhlaq dan perilaku. Bahwa ibadah sholat yang baik adalah ketika ia mampu mewarnai perilaku dan perbuatan kita. Baik perbuatan yang hanya berdampak pada diri sendiri maupun orang lain atau sosial. Shalat yang mampu mengkondisikan jiwa dan keimanan seseorang bisa sinilai dari perbuatan dan akhlaqnya.

2.2 KEDUDUKAN AKHLAQ  DALAM ISLAM
Untuk menyempurnakan iman menjadi alasan sebagai besar teologi Muslim memasuk kan islam sebagai bagian dari iman. Islam adalah sama persis dengan “aktivitas anggota badan”, tidak sembarang aktivitas, melainkan aktifitas yang diperintah kan oleh Tuhan, atau yang sesuai dengan kebenaran al-Qur’an.
Sungguh, kebutuhan iman terhadap islam adalah sangat penting. Iman mencakup kepatuhan terhadap anjuran-anjuran Tuhan, tetapi kepatuhan kepada Tuhan tidak mesti termasuk bagian penting dari Iman.
Sebagai contoh sederhana dapat menjelaskan hubungan antara iman dan islam adalah seorang muslim jatuh cinta dan menjalani ikatan perkawinan, jika pihak keluarga taat menjalankan syari’at islam, maka perkawinan tersebut mestilah dilangsungkan sesuai dengan ketentuan hukum islam. Jika seseorang Muslim laki-laki bermaksud menikahi perempuan Kristen atau perempuan Yahudi, maka pandangan Jumhur fuquha membolehkan berlangsungnya perkawinan tersebut, sehingga anak-anak yang dilahirkan akan tumbuh menjadi anak-anak muslim. Tetapi jika seorang wanita Muslim bermaksud menikahi dengan laki-laki non muslim, Syari’ah menegaskan bawasanya perkawinan tersebut haram.
Perhatian ajaran islam terhadap pembinaan akhlaq ini lebih lanjut dapat dilihat dari kandungan al qur’an yang banyak sekali berkaitan dengan perintah untuk melakukan kebaikan, berbuat adil, amar makruf dan nahi munkar. Perintah tersebut sasaranya antara lain agar yang melakukan memiliki akhlaq yang mulia.
Selanjutnya perhatian islam terhadap pembinaan akhlaq dapat pula dijumpai dari perhatian Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana terlihat dalam ucapan dan perbuatannya yang mengandung akhlaq. Didalam haditsnya misalnya ditemukan pernyataan bahwa beliau diutus di muka bumi untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.
Orang islam dengan petunjuk agamanya, mengikat akhlaq dengan agama dengan ikatan yang kukuh. Ia memandang akhlaq sebagai bagian yang tidak dapat terpisah dari agama. Akhlaq yang baik yang menggambarkan kebaikan dalam tingkah laku dan mu’ammalah, sehingga ia menjadi sumber pokok bagi tingkah laku yang utama dan akhlaq yang mulia dalam islam.

2.3 KEDUDUKAN AKHLAQ  DALAM IHSAN
Ihsan berasal kata hasana yuhsinu yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah ihsana, yang artinya kebaikan. Dan hubungan antara manusia dengan Allah memiliki aspek rohaniah yang dikenal dalam bahasa arab disebut dengan ihsan. Sedangkan menurut istilah, ihsan adalah berbakti dan mengabdikan diri kepada Allah SWT dengan dilandasi kesadaran dan keikhlasan. Berbakti kepada Allah berarti berbuat sesuatu yang bermanfaat baik diri sendiri, sesama manusia maupun untuk makhluk lainnya. Semua perbuatan tersebut dilakukan semata-mata karena alloh, seolah-olah orang tersebut berhadapan dengan alloh.
Ihsan juga dapat diartikan berarti menyembah Allah dengan sepenuh hati, memusatkan perhatian kepada alloh seakan-akan melihat alloh dihadapannya. Jika tidak demikian harus tetap yakin bahwa alloh melihat dirinya. Ibadah seperti inilah yang akan dapat mempengaruhi kepribadiannya menjadi manusia yang berakhlak mulia.Adapun ihsan terhadap sesama manusia adalah berbuat yang lebih baik (dari semestinya) sesuai petunjuk Islam. Dengan demikian yang dimaksud ihsan adalah perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang dengan niat beribadah kepada Allah swt.[2]





Tidak ada komentar:

Posting Komentar